Berlangganan

RSS Feed (xml)

Powered By


Powered by Blogger

SITE PREVIEW

This site is not only dedicated to a proffesor in accounting but also to many people who have interest in accounting. It discuss about accounting, especially hospital accounting and the other related topics.

As far as we know, hospital management use the financial report produced by accounting. Management have to plan, organizing, act, and controll the hospital business. He must be well understands about management and of course accouting.

The magic of accounting can solve all the problem that occurs. But accounting is not a single player. It needs the other tools, like audit that performs any kind of audit, management that manage not only the main business but also the second business, excitre.

In fact we hope can help somebody who have difficulty in accounting. You are right when say: this site has not perfect. We agree with you. So we call you to contribute your best opinion and thinking in accounting to make this site as one of choices discusing places.

Thanks for joining this site.

Rabu, 27 Agustus 2008

Disappoint

Berada dalam komunitas yang sama-sama memiliki background accounting kadang menguntungkan , tapi tak jarang membosankan. Kalau diukur secara statistik - tentu sesuai dengan yang saya alami- boleh jadi lama-kelamaan rating membosankannya semakin meningkat. Tentu saja dengan asumsi, bila topik yang muncul setiap bertemu dengan kolega adalah tentang akuntansi itu sendiri. Lantas apakah dapat dikatakan bahwa akuntansi merupakan satu bidang ilmu yang membosankan? Perlu penelitian yang ilmiah untuk membuktikannya.


Membosankan yang saya maksud tentu bukan mengenai sifat dan ruang lingkup akuntansi. Meskipun saya paham dan sepakat dengan mereka yang mengatakan bahwa secara konsep, akuntansi bukanlah ilmu yang dinamis. Ia statis. Jurnal , buku besar, posting , siklus akuntansi dan cabang-cabang akuntansi dan masih banyak bahasan tentang akuntansi yang ditulis para profesor akuntan dulu, tak jauh berbeda dengan terbitan profesor akuntan sekarang. Meskipun statis, bertemu dengan kolega sesama akuntansisme, kadang mengeluarkan energi yang tak sedikit. Perbedaan persepsi tentang bahasan sub topik akuntansi serta kengototan mempertahankan pendapat benar-benar menguras cadangan karbohidrat setiap hari. Perbincangan tentang hal ini sungguh saya akui sangat menarik. Terlebih bila melihat dua orang kolega yang saking ngototnya dalam berdebat sampai-sampai hampir berkelahi. Seru juga ya!


Membosankan yang saya maksud tentu saja mengenai sifat bawaan rutinitas pekerjaan. Bekerja dalam institusi yang mengklaim dirinya sebagai kantor akuntan pemerintah terbesar, membawa kami berada dalam rutinitas klasik. Kami bagaikan jarum jam yang berputar dari satu penugasan menuju pada penugasan yang lain. Akibat banyaknya beban kerja yang harus dikerjakan oleh masing-masing jam ini, nyaris tak ada waktu bagi kami untuk ketemu dengan jarum jam lain pada jam yang lain. Hampir tak ada waktu bagi kami bersua dengan kolega yang lain yang berada dalam penugasan yang berbeda. Maka setiap kali bertemu, saya sudah hapal pertanyaan apa yang bakal tercetus setelah berjabat tangan.


"Tugas di mana Mas?"


"Oh dekat-dekat sini aja kok dik. Kalau adik sendiri dapat penugasan di mana?"


"Proyek anu mas"


"Wah bakalan nambah tuh deposits. Ketua timnya siapa?"


Pertanyaan dan jawaban sudah lengket di memori saya bertahun-tahun. Dan topik ini tidak pernah berganti. Jarang yang menanyakan -setiap kali bertemu- misalnya dengan pertanyaan :" Sudah pernah dengar tentang ABC Method?" atau "Ada seminar bagus nih, metode penggajian sistem Full Payroll, mau ikutan?"


Inilah yang saya maksudkan. Bila setiap bertemu , pertanyaan yang muncul adalah mengenai penugasan, ingin rasanya saya berlari. Pergi ke suatu tempat yang tidak akan pernah saya jumpai lagi pertanyaan serupa. Rindu rasanya, muncul sapaan tentang dinamika akuntansi, atau keluarga atau topik-topik yang lain yang menyegarkan wawasan saya.


Maka di suatu pagi, tatkala karyawan lain belum banyak berdatangan. Ada sapaan dari kolega. "Ke Bromo yuk. Belum pernah kan? Pokoknya Asyik berat deh."


Ingin rasanya berteriak dan mengiyakan ajakan simpatik tersebut. Tapi yang keluar dari kerongkongan justru," Wah lain kali saja ya. Dua hari ini saya belum posting sama sekali. Kasihan blogku. Ia kan perlu penyegaran juga."

Minggu, 24 Agustus 2008

The Accounting Cycle

Every day every seven o’clock morning I always sit down infront of Television. Nothing that can I do except watch the animated child cartoon ’ Avatar’. It is a impresif and interesting story. The figure character is unique and very strong. So although the film itself had specified Eng as central figure, but existence of Saka and Katara just not as a complement roles. Saka is described not only as adolescent who has excellent idea but also warm person. While Katara is described more than ballast character, typical clever girl in communicating, bright ingratiate and foxy in motivating. Existence antagonist figure is represented by Azura who coming up to captivate. Imagery Azura with her family conflict combination which represented by Zuko and his uncle is hardly difficult to be guessed. But it is a pitty, the smart plot felt bored cause frequently the film of playback.
But I will not invite you to built-in familiarize looking Avatar. I only tell you that the films teach us the balances. Statements that arrive when film begins, clearly tell us this matter. Note," Yore world consist of four state living pacifically. fire state, water, Land and Air. But all changing when Fires states attack the others. Only Avatar whose four element capable to discontinuing Fire state and return peacefulness of world".
Ancient mythology of Chinese even also teach balance which approximant looking like. Every object even human consist of fire element, land, wind and water. Balance is endless theme. Forever time is needed for discussed. Because one clause concerning balance have enough make us more attentive, when one of balance former element stay in factious condition from the normal hence balance will fall to pieces by itself. So also universe. So also accountancy.
Cycle itself is indistinguishable circle such back part such jetty.
The water cycle describes a clearly cycle. Rain happened in area of mountain give adequate a lot of water. Water which fall and dropp in in between foliage, in the end soak into soil. Then coming to surface as source of water. Continuous shining source at last find the way become stream river to sea. Over there, the sun evaporate sea-water become white cloud. Wind unite separate initially cloud and dribble it to mountain. The long journey and chilling temperature force cloud turning into water items raining area of mounts. So further, continue to rotate. It just stopped when the world is dead.
Accounting cycle also does not far different. Codified transactions in transactions evidences have to pass journals process before posted into related general ledgers. Till at one particular period end, transactions which accumulateed in general ledgers are closed to obtain certainty of amount of balances finally. Gathering of these end balances will listed in financial statement which pointing management for doing evaluation during specified period. Nominal account on financial statement are continued at the next periods and ready for receiving accumulation of current year transactions. So further, it always continue to rotate. It just stopped when the company is not operated.
For auditor, accounting cycle is main tools to make tracks for transaction. Every fraud activity would easy to identified. Accounting cycle guarantying it. Accounting based ’ double entri bookkeeping’ provide accurate footstep record to every transaction. But the guarantee is fail if there are a collution. It is a simply that a very sophisticated system even if will not can detain collution attack. As water cycle, it is also not able to guarantee to maintenance water availability because failing to fight against collution. Collution between wood richmens, hewer, and constitution enforcer.

Rabu, 20 Agustus 2008

Let's Talk About Accounting

Mari kita bicara tentang akuntansi. Agar keliatan lebih ilmiah, kita mulai dengan definisi akuntansi itu sendiri. Nggak keberatan kan?
Para ulama-ulama akuntansi jaman dulu maupun sekarang tidak begitu kreatif dalam mendefinisikan istilah akuntansi. Saat saya belum lahir pun akuntansi telah dipahami sebagai " seni dalam mengukur, berkomunikasi dan menginterpretasikan aktivitas keuangan. Jadi kalo anda kebetulan adalah mahasiswa semester pertama jurusan akuntansi ato bahkan kandidat doktor akuntansi pasti akan menemukan definisi seperti ini. Definisi yang pro status quo seperti ini tentu saja tidak norak. Meskipun mengklaim sebagai salah satu aliran seni, akuntansi ternyata berbasis logika.
Gak percaya?
Sejarah akuntansi menegaskan bahwa logika matematika adalah ruh dari akuntansi itu sendiri. Prinsip-prinsip double Entry Bookkeeping ato yang oleh orang tua kita disebutnya "pembukuan" adalah operasi-operasi logika matematika yang berguna untuk menelusuri alur dari setiap transaksi. Dengan metode ini , setiap kesalahan pembukuan ato penyimpangan yang disengaja akan dengan mudah ditelusuri.
Ini adalah keistimewaan akuntansi kalo kita nggak tega menyebutnya sebagai suatu keanehan. ternyata 'seni' yang nota bene masuk dalam kategori ilmu-ilmu sosial dapat berpadu dengan matematika yang menjadi Mbahnya ilmu pasti. Dan itu hanya terdapat pada akuntansi. Dan itu berarti, akuntansi adalah solusi disintegrasi bangsa. Lho kok...?
Percaya deh, coba putar ulang waktu anda masih SLTA dulu. Dikotomi ilmu eksakta dan sosial menimbulkan kasta baru dalam lingkup sempit, yakni: sekolah. Mereka yang kebetulan masuk dalam kelas eksak akan menepuk dada sembari teriak," Ortu Gue pantas bangga. Otak gue telah bersertifikasi Enstein. Negeri ini kelak akan berhutang budi pada insinyur-insinyur cerdas nan jenius kayak gue".
Siswa dari kelas sosial tak mau kalah. "Coba lihat siapa yang membuat Indonesia penuh warna? Tentu saja kita para pecinta keindahan. Tapi coba lihat, andil siapa yang mengotori udara kita dengan asap hitam nan tebal. Yang mengeruhkan sungai kita dengan polutan. Yang membabat habis pohon, emas dan tembaga. Yang membunuh sesama dengan mesin perang tak berjiwa tak berasa. tentu saja mereka para pendewa pikiran dan eksakta".
Tak jarang adu mulut harus berakhir dengan benjol-benjol di kepala. Tak sedikit bangku dan jendela sekolah berantakan menampung luberan jiwa muda mereka. Dan saya adalah salah satunya.
Maka sungguh merupakan tamparan keras tatkala orang tua meminta dengan sangat agar saya yang penganut Einteinisme melanjutkan kuliah di STAN. Intelektualitas saya tentu tidak akan optimal. Boleh jadi dengan memanfaatkan sekitar 5% saja dari kapasitas terpasang otak saya, semua materi akuntansi akan habis tak bersisa bahkan sebelum kelulusan saya.
Sombong nian si Untung ini...
Begitulah , hanya untuk mendapatkan rangking 41 dari 416 mahasiswa STAN, saya mesti memeras otak 150%, tidur tak keruan, makan tak beraturan, dan mimpi tak kesampaian. Akuntansi ternyata penuh dengan logika eksakta. Kebanggaan mulai menghinggapi diri. Sampai pada suatu saat di mana akuntansi yang katanya telah disepakati sebagai suatu seni, ternyata diobrak-abrik oleh para tetua akuntan dengan membuat penyeragaman-penyeragaman dengan bahasa yang mentereng (mentang-mentang teman si Gareng) dengan istilah 'standar'.
Timbul pertanyaan tentunya. Kenapa akuntansi sebagai salah satu cabang seni harus dibuat standar. Bukankah seni adalah upaya eksplorasi diri?, semacam cetusan jiwa? yang tentu saja berbeda dari orang ke orang. Berbeda dari jaman ke jaman?
Bukankah upaya standarisasi ini hanya akan membuat akuntansi tak ubahnya produk industri. Sama dengan semen, lampu, baju dan celana. Yang dengan alasan untuk memuaskan konsumen harus memiliki standar mutu yang sama? Kalo benar seperti ini, alangkah kasihan para akuntan. Mereka tak ubahnya pekerja pabrikan yang terkekang hidupnya, dan terburu-buru selesaikan produknya. Persis robot yang diperintah tuannya. Dan yang sudah pasti...
Alangkah kasihan diri saya...

The Beginning...

Saat kita bicara tentang akuntansi ada satu kata yang penting dan selalu mengikutinya. Meskipun satu kata ini bisa berganti, namun posisinya sebagai penjelas akuntansi memiliki makna tersendiri dan ini semakin mengokohkan kedudukan akuntansi sebagai 'point of view' yang utama. Misalnya, Anda tentu tak asing dengan istilah seperti ini kan? : Sistem Akuntansi, Manajemen Akuntansi, Akuntansi Gaji, Akuntansi Biaya bahkan akuntansi rumah sakit. Tak sulit untuk menjelaskan perbedaan frasa tersebut. Tapi lihatlah, ada satu hal yang tak berubah. Akuntansi itu sendiri.
Untuk menjelaskannya tentu harus kita kutip dulu pendapat-pendapat orang-orang terdahulu tentang akuntansi, baru kemudian penjelasan yang ngawur dan sedikit nakal dari saya.

The Magic of Accounting

Anda mahasiswa akuntansi?
Apa yang anda harapkan kelak setelah lulus sebagai ahli akuntansi?
Kapan anda mengenal akuntansi?
Kebanggaan macam apa yang anda peroleh sekiranya orang tahu anda adalah mahasiswa akuntansi?

Banyak lagi pertanyaan yang bisa ditujukan untuk orang-orang seperti anda dan seperti saya. Benang merahnya adalah bahwa begitu tidak popularnya akuntansi dibanding dengan jurusan eksak bahkan sosial lainnya, macam hukum, sos-pol dan lainnya.

Kenyataan memprihatinkan ini tentu saja masuk akal. Tak satu pun barangkali, guru-guru TK kita yang tahu apa itu akuntansi. Tentu saja, tiap kali ada pertanyaan yang ditujukan kepada anak-anak TK,"Kalo besar nanti kalian pengin jadi apa?". Maka sudah pasti celoteh mereka tak jauh-jauh dari:, " Doktel bu guru...!, Tentala bu guru..!, Pilot lebih gagah kan bu.., Polisi boleh juga tuh..., Penyanyi terkenal..!, Sopir.., Mantri...bu guru..!

Kalo disandingkan dengan profesi dokter, akuntansi masih kalah popular, tak mengapa. Tapi ini sudah keterlaluan. Profesi sopir ternyata jauh lebih mudah dipahami oleh anak-anak itu dibanding akuntan, yang nota bene mereka, para akuntan itu telah memeras keringat dan dompet mereka -lebih banyak dibanding sopir- untuk sekedar mendapatkan gelar tambahan "Ak" di belakang nama mereka.

Begitu paham bahwa akuntansi tidak begitu memasyarakat, pertanyaan di atas tentu bisa bertambah. Dan yang paling menohok adalah: Lantas kenapa anda -para mahasiswa akuntansi- berani mempertaruhkan masa depan kalian untuk sebuah profesi yang tidak begitu dikenal di masyarakat?
Ada beberapa alasan, anda bisa memilih satu diantaranya , yang paling sesuai dengan diri anda tentunya. Berikut adalah listing dari alasan-alasan tersebut:
  1. Biaya termurah di kelasnya. Ada juga yang gratisan.
  2. Banyakan makhluk ceweknya daripada lakinya. Asyik dah...
  3. Paling ringan dan mudah dipelajari. Sisa waktu bisa mbantu njagain warung babe.
  4. Tren user yang tidak begitu pusing dengan jurusan, yang penting fresh graduate. Sudah bisa deh kerja di bank.
  5. Dari pada nganggur.
  6. Persaingan masih kondusif.
  7. Peluang kerja masih terbuka lebar.
  8. Bekalan ndirikan kursus akuntansi.
Dan yang terakhir...

9. Salah Jurusan...?!?

Selasa, 12 Agustus 2008

The New Method Of Unit Cost : Activity Based Costing

Activity based costing (ABC) assigns manufacturing overhead costs to products in a more logical manner than the traditional approach of simply allocating costs on the basis of machine hours. Activity based costing first assigns costs to the activities that are the real cause of the overhead. It then assigns the cost of those activities only to the products that are actually demanding the activities.


Let's discuss activity based costing by looking at two products manufactured by the same company. Product 124 is a low volume item which requires certain activities such as special engineering, additional testing, and many machine setups because it is ordered in small quantities. A similar product, Product 366, is a high volume product—running continuously—and requires little attention and no special activities. If this company used traditional costing, it might allocate or "spread" all of its overhead to products based on the number of machine hours. This will result in little overhead cost allocated to Product 124, because it did not have many machine hours. However, it did demand lots of engineering, testing, and setup activities. In contrast, Product 366 will be allocated an enormous amount of overhead (due to all those machine hours), but it demanded little overhead activity. The result will be a miscalculation of each product's true cost of manufacturing overhead. Activity based costing will overcome this shortcoming by assigning overhead on more than the one activity, running the machine.


Activity based costing recognizes that the special engineering, special testing, machine setups, and others are activities that cause costs-they cause the company to consume resources. Under ABC, the company will calculate the cost of the resources used in each of these activities. Next, the cost of each of these activities will be assigned only to the products that demanded the activities. In our example, Product 124 will be assigned some of the company's costs of special engineering, special testing, and machine setup. Other products that use any of these activities will also be assigned some of their costs. Product 366 will not be assigned any cost of special engineering or special testing, and it will be assigned only a small amount of machine setup.